Kemana Anda pergi berbelanja?
Sebagian kita mungkin belanja ke Mall sebulan sekali, membeli kebutuhan bulanan sambil jalan-jalan sekeluarga. Lantas seringkali, ada kebutuhan sehari-hari yang tidak terbeli saat belanja bulanan, sehingga kita pergi ke warung. Tapi maraknya minimarket saat ini, membuat kita lebih nyaman belanja di minimarket dibandingkan warung. Dengan nyamannya AC, lebih luasnya area belanja, bebas mencari/memilih produk dan melihat-lihat label produk selama apapun waktunya, minimarket menjadi pilihan. Terkadang kita bisa menemukan beberapa barang yang lebih murah harganya dibandingkan warung. Tetapi ada juga yang tetap lebih mahal dibanding beli di warung. :)
(sumber ilustrasi: http://bisniswarung.blogspot.com)
Tapi sadarkah Anda, berbagai produk dalam kemasan yang dijual di minimarket sesungguhnya berasal dari tempat-tempat yang jauh?
Mereka mendatangkan berbagai produk mulai dari makanan, minuman, perlengkapan mandi, kebutuhan bayi, mainan, perabotan rumah, majalah, dan banyak lagi, yang diproduksi di pabrik-pabrik jauh dari rumah kita, kemudian dikemas dan diantar ke seluruh cabang minimarket.
Konsekuensinya:
- Harga sedikit lebih mahal karena ongkos kirim. Tapi ini bisa diatasi karena pembelian dalam jumlah besar, membuat ongkos kirim tidak terasa memberatkan
- Makanan / Minuman harus tahan lama, sehingga diperlukan pengawet, atau kemasan yang baik, sehingga sedikit menambah ongkos produksi. Padahal pada akhirnya kemasan tersebut dibuang dan menjadi sampah.
Bagaimana dengan ide mengembangkan ekonomi lokal pemasok produk minimarket?
Ketatnya persaingan warung dengan minimarket, terkadang tidak sehat untuk masyarakat. Masyarakat juga cenderung konsumtif karena hanya membeli produk hasil pabrik yang tersebar di berbagai daerah dengan harga relatif sama.
Ide untuk memasukkan produk lokal ke dalam minimarket pun berkembang. Oktober 2010, jaringan toko terbesar di Amerika, Wal-Mart, mengumumkan rencana untuk membeli lebih banyak produk lokal untuk membantu sektor pertanian Amerika yang berkelanjutan sekaligus berupaya mengurangi dampak lingkungan.
Rencana ini mendapat sambutan positif dari para pemerhati lingkungan dan pelaku industri pertanian Amerika. Menurut mereka, apa yang dilakukan Wal Mart akan berdampak signifikan membantu para petani dan pemasok. Sebenarnya keputusan ini merupakan kelanjutan dari kebijakan Wal Mart 5 tahun lalu yakni berupaya mengalihkan ketergantungan kepada energi terbarukan dan mengurangi limbah kemasan.
Perusahaan ritel asal Korea Selatan, Lotte Mart juga sedang mencari produk lokal Indonesia yang berkualitas. Pada September 2011 lalu, mereka berjanji akan memasarkan produk tersebut ke seluruh jaringannya di seluruh dunia. Produk yang dicari adalah produk yang menggambarkan citra Indonesia, tidak mudah rusak, berkemasan bagus dan berdesain unik. Selama ini, Lotte Mart juga sering mengimpor beberapa jenis produk asal Indonesia. Misalnya, mangga, kaos, mie instan, permen, kopi, dan peralatan rumah tangga.
Tahun 2013, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menganggarkan Rp80 juta untuk memasarkan berbagai jenis produk lokal Tangsel. Diantaranya adalah rengginang, kacang sangrai, kripik singkong, pisang, opak, peyek, dan sebagainya. Target pemasarananya sejauh ini mencakup 400 hotel dan restoran yang ada di Kota Tangsel.
Meningkatnya industri rumahan, menjadi pendorong majunya produk lokal di Tangsel. Disperindag Kota Tangsel juga bekerjasama dengan beberapa bank swasta dengan tujuan agar pelaku usaha kecil mendapat modal dengan bunga ringan. Kuliner buatan masyarakat Tangsel dapat bersaing karena memiliki cita rasa tersendiri.
Nah, sekarang apakah Anda tertarik untuk mengembangkan produk lokal? :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar